Sudah halus kok dibikin kasar? (Tanya Kenapa??)

Sebagai orang yg sangat sering menempuh perjalanan magelang-jogja PP, tentunya saya sangat hafal dengan kondisi jalan yg saya lalui. Perubahan2 yg terjadi di sepanjang jalan itu pun benar2 saya ingat, bahkan cukup mendetail, misalnya di daerah mana jalannya berlubang, sehingga saya bisa menghindari bagian jalan yg rusak tersebut, atau daerah mana yg macet karena sedang ada perbaikan jalan, sehingga saya bisa cari jalur alternatif. Perubahan2 yg berupa perbaikan jalan atau pun pelapisan ulang menggunakan aspal juga masih saya ingat bagian2 nya, dan dalam hal ini lah saya menemukan sebuah fenomena yg cukup menarik dan membuat saya penasaran.

Ceritanya begini. Dalam ingatan saya, sudah beberapa kali jalan tersebut mengalami perbaikan dan pelapisan ulang dengan aspal. Contoh terakhir adalah ringroad utara, perempatan jombor, dan sebagian jalan magelang ke arah utara dari jombor, baru saja mengalami pelapisan ulang dengan aspal. Sebelumnya, ruas jalan raya magelang dari jembatan krasak ke utara juga dilapis ulang dengan aspal. Aspal yg digunakan adalah campuran aspal dan pasir yg cukup halus, dan tebalnya mungkin sekitar 3-5 cm setiap kali melapisi. Hal ini benar2 meningkatkan kenyamanan berkendara karena jalan menjadi lebih halus dan rata, suasana di dalam kabin kendaraan pun semakin nyaman karena suara ban tidak berisik dan minim getaran. Tentunya semua pengguna jalan menginginkan hal ini bukan?

Tapi, kondisi yg sebaliknya justru terjadi di bagian lain dari jalur magelang-jogja yg sering saya lalui. Ruas jalan di sekitar muntilan, mulai dari daerah dekat kuburan cina di gremeng, ke utara sampe hampir pertigaan palbapang ke arah borobudur, sudah beberapa kali mengalami pelapisan ulang dengan hanya menggunakan lapisan aspal cair dan kerikil yg ditaburkan begitu saja diatasnya. Akibatnya sudah jelas, jalan menjadi kasar dan mengurangi kenyamanan berkendara, suara ban terdengar berisik, mobil terasa bergetar. Ban mobil pun tentunya menjadi lebih cepat aus karena seperti diparut saat melintas di jalan itu. Selain itu, selama proses pengerjaan dan beberapa hari setelahnya (saat lapisan masih baru), banyak sekali kerikil2 yg tidak/belum melekat sempurna pada lapisan aspal yg berfungsi sebagi "lem" tersebut. Akibatnya, krikil berterbangan saat kendaraan melintasinya, benar2 mempercepat proses pengrusakan terhadap cat mobil di sekitar roda, dan daerah bemper depan karena lemparan kerikil dari kendaraan di depannya. Kondisi ini juga berbahaya bagi kendaraan roda dua, karena rawan selip.

Yg menjadi pertanyaan adalah, mengapa jalan yg semula sudah halus justru dilapisi dengan kerikil sehingga menjadi kasar? Mengapa tidak dilakukan pelapisan ulang dengan campuran aspal dan pasir halus seperti di ringroad utara dan jalan magelang? Ruas jalan di utara jembatan krasak hingga sekitar jembatan timbang juga sudah dilapisi dengan aspal halus,  padahal ruas jalan ini kan masih sama2 masuk wilayah propinsi jawa tengah dan kabupaten magelang, dan merupakan jalur utama semarang-jogja, sama dengan ruas jalan yg dilapisi dengan kerikil kasar.

Leave a Reply