Tidak Pada Tempatnya
Wednesday, November 8th, 2006Segala sesuatu, atau seseorang, kalo (entah sengaja atau tidak) diposisikan pada tempat yg ga tepat, mungkin ga akan bisa membawa manfaat. Ini mungkin sering sekali terjadi, dan kita pun tahu tentang hal itu. Situasi seperti itu, kalo dipaksakan justru bisa merugikan, atau bahkan membahayakan, walaupun bisa saja terjadi justru sebaliknya. Tapi apakah kita pernah berpikir panjang dan berusaha untuk memahami letak permasalahan yg sesungguhnya? Ataukah kita justru hanya berpikir praktis, pendek, dan menganggap ketidakbermanfaatannya itu sebagai sebuah kekurangan, ketidakmampuan, atau kegagalan?
Ilustrasi nya adalah sebagai berikut (ini 100% fiksi loh, just an example):
Misalkan ada seorang dokter, sangat sukses dan terkenal. Tdk perlu disebut namanya (bingung ngarang nama nya, ntar kalo ga sengaja sama dengan nama seseorang bisa repot). Di masyarakat, dokter itu terkenal sangat ramah, baik hati, suka menolong, ga sombong, ga suka bengong, dan kulit nya ga gosong
Reputasi nya sebagai dokter sudah tidak diragukan lagi. Masyarakat banyak yg percaya kepada dokter itu, dan terlanjur mengidentikkan dokter tersebut sebagai orang yg bisa menolong/menyelamatkan/menyembuhkan. Tapi suatu ketika, saat dokter tersebut sedang bertugas di suatu pulau yg terpencil (agak hiperbolis), dia melihat ada sebuah perahu terbalik tidak jauh dari pantai, semua penumpangnya terombang-ambing oleh ombak lautan dan nyaris hanyut. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, beberapa orang lain yg berada di pantai juga tidak berani menolong.
Saya ga akan meneruskan cerita itu, biar ngambang aja dan ga jelas apakah akhirnya para penumpang perahu yg terbalik itu selamat atau tidak. Yg penting intinya adalah, saat itu, si dokter yg jelas2 reputasi nya di bidang medis tidak diragukan lagi dan sudah banyak menolong orang, ternyata tidak bisa menolong para korban tersebut.
Nah, dalam kasus ini, apakah bisa kita katakan bahwa si dokter telah gagal menolong para korban? Ataukah kita akan menuduh si dokter tidak mau menolong para korban?
Atau mungkin kita justru mampu berpikir panjang, dan coba menganalisa, mengapa si dokter (dan juga orang2 lain di pantai) ga ada yg menolong para korban? Bisa ga kita berusaha memahami bahwa si dokter tersebut mungkin juga takut akan ombak laut tersebut atau bahkan ga bisa berenang? Bisa ga kita berpikiran bahwa para korban perahu terbalik sebenarnya ga butuh seorang dokter melainkan tim SAR? Lagipula, kalo pun ada yg terluka dan butuh penanganan dokter, pasti harus diangkat dari air dulu kan?