Mekanik jangan pake FEELING donk!!

August 19th, 2007 by aryowidiatmoko

Saya menulis ini karena ingin mengungkapkan semua uneg-uneg dan perasaaan tidak puas yg saya alami selama berurusan dengan mekanik2 tradisional. Adapun yg saya maksud dengan "mekanik tradisional" adalah mekanik/bengkel diluar bengkel resmi sebuah merk kendaraan bermotor (dalam hal ini adalah mobil Honda), yg tidak memiliki pengetahuan yg spesifik tentang kendaraan tersebut dan hanya memiliki pengetahuan tentang kendaraaan secara umum.

Ketidakpuasan tersebut tidak hanya semata-mata karena kerugian material yg saya alami sebagai akibat dari kesalahan diagnosis kerusakan ataupun kesalahan teknis pengerjaan, tetapi juga karena kerugian waktu, dan kerugian moril sebagai akibat dari sikap mereka yg kurang profesional dan kadang tidak mau diajak berdebat dan tidak mau menerima masukan dari saya mengenai kondisi mobil saya.

Berikut adalah daftar kesalahan teknis pengerjaan maupun kesalahan diagnosis yang pernah dilakukan oleh mekanik tradisional tersebut terhadap mobil saya:

  • Menyatakan bahwa diafragma vakum tidak bisa diuji apakah bocor atau tidak dengan cara dihisap dengan mulut, karena menurutnya terlalu berat, padahal belakangan saya coba hisap pada saluran vakumnya, ternyata saya bisa dengan mudahnya menggerakkan diafragma vakum tersebut. Anehnya lagi, pada kesempatan lain, dia menguji kebocoran diafragma vakum dengan cara menghisapnya dengan mulut juga, padahal sebelumnya bersikeras bahwa diafragma vakum terlalu berat untuk diuji dengan cara dihisap
  • Menganggap komponen yg bernama "dashpot" sebagai katup satu arah, sehingga saat dashpot tersebut dicoba dihisap dan ditiup kemudian udara bisa masuk dan keluar, dianggapnya dashpot tersebut rusak/bocor. Padahal dashpot adalah peredam satu arah, yg cara kerjanya memang demikian, yaitu saat dihisap udara bisa masuk dengan mengalami hambatan, dan saat ditiup udara bisa keluar dengan lancar, atau sebaliknya, tergantung dari ujung mana kita menghisap/meniup
  • Menyatakan bahwa pergerakan diafragma vakum dashpot adalah sangat kecil sekali dan tidak kasat mata, sehingga normal/tidak nya kerja diafragma vakum dashpot tidak bisa dilihat. Padahal belakangan terbukti bahwa pergerakan dashpot seharusnya berkisar sekitar 1 cm, jelas sebuah pergerakan yg kasat mata. Hal ini terjadi karena sang mekanik tidak tau/belom tau bahwa dashpot hanya bergerak/berfungsi saat mesin di gas dengan beban (misal kondisi berjalan) kemudian dilepas secara mendadak, atau digas mendadak tanpa beban (kondisi berhenti, presneling netral) kemudian dilepas lagi secara mendadak juga
  • Memutar (memajukan) sekrup pada ujung tuas yg digerakkan oleh diafragma vakum dashpot untuk menaikkan RPM mesin saat idle/stasioner, benar2 suatu hal yg konyol, karena setiap mesin pasti memiliki yg namanya idle speed adjuster, sekrup yg berfungsi menyetel RPM idle mesin. Sedangkan diafragma vakum dashpot ini seharusnya hanya berfungsi untuk meredam laju throttle valve saat gas dilepas mendadak, agar kembali ke posisi idle/stasioner secara pelan2 hingga kembali mencapai posisi sekrup idle speed adjuster.
  • Memasang dashpot terbalik, tidak tau ujung mana yg harus terhubung ke intake manifold dan mana yg harus terhubung ke diafragma vakum dashpot, akibatnya, dashpot yg berfungsi sebagai peredam satu arah tersebut praktis tidak berarti karena bekerja ke arah yg salah. Padahal dashpot ini baru saja dibeli karena dashpot yg lama terlanjur divonis bocor
  • Sebagai akibat dari dashpot yg terbalik, kebocoran pada diafragma vakum dashpot menjadi tidak terdeteksi, diafragma vakum dashpot tetap bisa bergerak maju mundur. Padahal itu terjadi karena dengan terbaliknya pemasangan dashpot, maka hisapan yg diterima oleh diafragma vakum dashpot menjadi lebih besar dari yg seharusnya, tapi dengan adanya kebocoran pada diafragma yg sedemikian rupa sehingga selisih antara hisapan yg berlebihan dan kebocoran yg ada itu bisa menyerupai hisapan vakum yg seharusnya diterima oleh diafragma jika dashpot tidak terbalik dan diafragma tidak bocor, mengakibatkan seolah-olah diafragma vakum dashpot tersebut bekerja dengan normal. Namun tentunya hal ini mengakibatkan adanya tambahan udara yg masuk ke ruang bakar mesin, melalui jalur yg tidak seharusnya.
  • Menyatakan bahwa kebocoran pada vacuum advancer distributor adalah penyebab dari gejala mogok misterius yg beberapa kali saya alami akhir2 ini. vacuum advancer ini memang terbukti bocor, tapi pemahamannya terhadap cara kerja vacuum advancer ini jelas2 salah. Mekanik menganggap bahwa vacuum advancer yg bocor tidak akan mempengaruhi aliran udara ke dalam mesin, padahal sudah jelas bahwa vacuum advancer mendapat kan vakum dari intake manifold, artinya, jika salah satu diafragma vakum bocor (dalam hal ini adalah vacuum advancer distributor), maka akan ada aliran udara tambahan yg masuk ke mesin melalui jalur yg tidak seharusnya, mengakibatkan campuran bahan bakar terlalu miskin, sehingga tenaga mesin berkurang. Selain itu, kebocoran ini hanya akan berakibat pada waktu pengapian yg menjadi agak mundur karena advancer tidak bekerja, akibatnya tenaga mesin sedikit berkurang juga, tetapi tidak sampe mogok total seperti yg saya alami. Belakangan terbukti juga bahwa penyebab mogok bukanlah karena kebocoran pada vacuum advancer ini
  • Menganggap aliran air radiator ke dalam intake manifold berfungsi sebagai pendingin, padahal panas atau dingin adalah suatu hal yg relatif, misalnya bagi mesin, radiator jelas2 berfungsi sebagai pendingin, tetapi bagi intake manifold, jelas tidak demikian. Dari artikel yg pernah saya baca,  aliran air radiator ke dalam intake manifold berfungsi sebagai pemanas untuk mencegah kebekuan bagi mobil2 yg ada di daerah2 yg mengalami musim dingin, dan bagi mobil2 yg berada di daerah yg tidak mengalami musim dingin, aliran air radiator ke dalam intake manifold ini sering diputus agar intake manifold tidak terlalu panas. Saya sendiri sebenarnya sudah berencana ingin memutus aliran air radiator ke AC heater dan intake manifold, tapi saya sendiri juga blom yakin akan hal ini
  • Tidak mampu menyetel karburator dengan pas, karena hanya dilakukan dengan coba2 mengandalkan perasaan, tanpa memahami teorinya secara detail. Logikanya, dengan adanya kebocoran di saluran vakum, sudah jelas bahwa bagaimanapun juga, setelan yg pas tidak akan bisa kita dapatkan, hal ini seharusnya bisa segera disadari kalo saja sang mekanik bisa jeli melihat bahwa tidak ada perubahan yg berarti pada kerja mesin saat
    sekrup setelan udara pada karburator diputar2, karena mesin mendapatkan udara ekstra melalui jalur yg tidak semestinya

  • Menganggap bahwa pengikisan yg dilakukan terhadap cylinder head tidak akan membawa pengaruh apapun terhadap mesin. Padahal logikanya, dengan cylinder head yg dikikis, berarti posisi cylinder head dan teman2nya (camshaft, rocker arm, dll) menjadi lebih turun dan jaraknya dengan crankshaft menjadi lebih dekat. Akibatnya, panjang timing belt yg mengatur waktu pengapian dan buka tutup katup antara crankshaft dan camshaft juga berubah. Kalo perubahan panjangnya pas satu gigi, bisa dengan mudahnya menyesuaikan posisi camshaft satu gigi juga, tapi kalo perubahannya tidak tepat satu gigi, seharusnya satu2nya solusi adalah dengan menggunakan adjustable camshaft sprocket yg sudut fasenya bisa disesuaikan

Hal-hal tersebut diatas adalah suatu bukti bahwa seseorang yg sudah dianggap sebagai mekanik yg cukup ternama di kalangan pemilik mobil tradisional pun ternyata masih kurang memahami detail suatu mobil yg sebenarnya tidaklah terlalu canggih. Mereka hanya memahami cara kerja mobil secara umum. Sebenarnya memahami mobil secara umum bukanlah sebuah kesalahan, karena di masa lalu, hampir semua mobil cara kerja nya sama smua, blom ada teknologi yg canggih yg membuat sebuah mobil memerlukan ilmu/ketrampilan khusus. Praktis, dimasa lalu mobil itu hanya terdiri dari dua macam, bermesin diesel dan bermesin bensin, dengan transmisi hampir smuanya manual, karena transimisi otomatis di masa lalu merupakan suatu hal yg menakutkan dan hampir tidak ada orang yg mau membelinya.

Mungkin ada satu hal yg bisa kita simpulkan dari sini, yaitu bahwa teknologi semakin berkembang, ilmu kita harus selalu di-update agar tidak ketinggalan jaman, dan dijaman yg semakin canggih ini, kita sudah tidak bisa lagi menggunakan pemahaman2 kita secara umum untuk memahami sesuatu yg spesifik, karena bisa jadi sesuatu tersebut memiliki teknologi yg benar2 berbeda dan prinsip kerjanya pun juga sangat berbeda.

Saya jadi teringat kepada seorang pemilik bengkel di jogja, yg memiliki buku pegangan berupa fotokopian buku berjudul Autodata, bentuknya tebal mirip buku mata kuliah elektronika dasar saat saya kuliah dulu. Benar2 seorang yg sangat profesional, menghargai teori dan teknologi, dan patut ditiru oleh mekanik2 lain, agar dalam mengerjakan perbaikan suatu mobil/kendaraan tidak hanya mengandalkan pengalaman, pemahaman umum, apalagi perasaan.

Kadang saya juga berpikir, bagaimana jadinya kalo suatu saat ada pemilik mobil Mazda RX-8 bermesin Renesis, atau pemilik mobil Honda FCX yg tiba2 mogok dan terpaksa minta bantuan mekanik tradisional, kira2 bagaimana ya reaksi para mekanik tradisional itu saat mulai mengutak-atik mesinnya??

Sudah halus kok dibikin kasar? (Tanya Kenapa??)

August 18th, 2007 by aryowidiatmoko

Sebagai orang yg sangat sering menempuh perjalanan magelang-jogja PP, tentunya saya sangat hafal dengan kondisi jalan yg saya lalui. Perubahan2 yg terjadi di sepanjang jalan itu pun benar2 saya ingat, bahkan cukup mendetail, misalnya di daerah mana jalannya berlubang, sehingga saya bisa menghindari bagian jalan yg rusak tersebut, atau daerah mana yg macet karena sedang ada perbaikan jalan, sehingga saya bisa cari jalur alternatif. Perubahan2 yg berupa perbaikan jalan atau pun pelapisan ulang menggunakan aspal juga masih saya ingat bagian2 nya, dan dalam hal ini lah saya menemukan sebuah fenomena yg cukup menarik dan membuat saya penasaran.

Ceritanya begini. Dalam ingatan saya, sudah beberapa kali jalan tersebut mengalami perbaikan dan pelapisan ulang dengan aspal. Contoh terakhir adalah ringroad utara, perempatan jombor, dan sebagian jalan magelang ke arah utara dari jombor, baru saja mengalami pelapisan ulang dengan aspal. Sebelumnya, ruas jalan raya magelang dari jembatan krasak ke utara juga dilapis ulang dengan aspal. Aspal yg digunakan adalah campuran aspal dan pasir yg cukup halus, dan tebalnya mungkin sekitar 3-5 cm setiap kali melapisi. Hal ini benar2 meningkatkan kenyamanan berkendara karena jalan menjadi lebih halus dan rata, suasana di dalam kabin kendaraan pun semakin nyaman karena suara ban tidak berisik dan minim getaran. Tentunya semua pengguna jalan menginginkan hal ini bukan?

Tapi, kondisi yg sebaliknya justru terjadi di bagian lain dari jalur magelang-jogja yg sering saya lalui. Ruas jalan di sekitar muntilan, mulai dari daerah dekat kuburan cina di gremeng, ke utara sampe hampir pertigaan palbapang ke arah borobudur, sudah beberapa kali mengalami pelapisan ulang dengan hanya menggunakan lapisan aspal cair dan kerikil yg ditaburkan begitu saja diatasnya. Akibatnya sudah jelas, jalan menjadi kasar dan mengurangi kenyamanan berkendara, suara ban terdengar berisik, mobil terasa bergetar. Ban mobil pun tentunya menjadi lebih cepat aus karena seperti diparut saat melintas di jalan itu. Selain itu, selama proses pengerjaan dan beberapa hari setelahnya (saat lapisan masih baru), banyak sekali kerikil2 yg tidak/belum melekat sempurna pada lapisan aspal yg berfungsi sebagi "lem" tersebut. Akibatnya, krikil berterbangan saat kendaraan melintasinya, benar2 mempercepat proses pengrusakan terhadap cat mobil di sekitar roda, dan daerah bemper depan karena lemparan kerikil dari kendaraan di depannya. Kondisi ini juga berbahaya bagi kendaraan roda dua, karena rawan selip.

Yg menjadi pertanyaan adalah, mengapa jalan yg semula sudah halus justru dilapisi dengan kerikil sehingga menjadi kasar? Mengapa tidak dilakukan pelapisan ulang dengan campuran aspal dan pasir halus seperti di ringroad utara dan jalan magelang? Ruas jalan di utara jembatan krasak hingga sekitar jembatan timbang juga sudah dilapisi dengan aspal halus,  padahal ruas jalan ini kan masih sama2 masuk wilayah propinsi jawa tengah dan kabupaten magelang, dan merupakan jalur utama semarang-jogja, sama dengan ruas jalan yg dilapisi dengan kerikil kasar.

Kalibrasi perasaan: bisa ga ya??

April 5th, 2007 by aryowidiatmoko

Wahh lama juga ga ngupdate blog ku karena terlalu asik dengan hobi baru ku mengirimkan foto ke situs Fotografer.Net. Ya maklum lah, kan sebelum punya kamera digital ini aku masih terkungkung dengan kamera analog yang dengan segala ketidakpraktisan dan ketidakcanggihannya membuatku jadi ga pengen memotret. Kalopun ada kamera digital, paling2 cuma kamera HP Nokia 6600 ku yang masih sangat rendah resolusinya, ataupun kamera pinjaman yang tentunya memiliki karakter unik yang tidak dipahami oleh siapapun kecuali pemiliknya.

Kembali ke blog…Kamis sore aku pergi ke gereja buat Misa Kamis Putih. Gereja di tempatku ini halaman yang bisa buat parkir mobil cukup sempit, paling2 hanya muat 20-an mobil, itu pun harus berdesak2an dan menganut sistem LIFO (last in first out). Artinya, mobil yg datang belakangan malah dapet parkir deket pintu pagar, dan harus keluar duluan agar mobil2 lain bisa keluar juga.

Singkat cerita, karena tadi aku dateng agak awal, pas mau pulang, ternyata di depan mobilku masih ada 3 mobil dan dibelakangku 1 mobil, dan ternyata ke-5 mobil (3 mobil didepanku + mobil ku + 1 mobil dibelakangku = 5 mobil, betul kan?) dalam satu deret ini ga bisa keluar hanya karena mobil yang terdepan masih terkunci dan pemiliknya belom datang. Dalam posisi seperti ini aku mikir, hebat juga ya satu mobil bisa menghambat 4 mobil untuk keluar. Lebih parahnya lagi, deretan mobil di kanan dan kiriku udah mulai bisa keluar perlahan2 dengan tertib karena mobil2 di depannya sudah mulai bergerak keluar. Hanya deretanku yang masih diam ditempat.

Melihat ada celah di kananku, dan masih ada jarak juga dengan mobil di depanku dan di belakangku, aku langsung bikin rencana manuver untuk keluar  lewat  deretan sebelah kananku. Aku mundurin mobilku dikit, dengan maksud agar aku bisa langsung belok kanan dan masuk ke deretan mobil di kananku. Tapi, baru gerak mundur kira2 2 ato 3 cm aja, tiba2 terdengar suara seorang bapak teriak2 "awas belakang mepet..belakang mepet". Aku berhenti sejenak, melihat ke belakang, masih ada jarak, langsung mundurin mobil lagi. Tiba2 terdengar suara teriakan dari orang yang sama lagi "awas belakang ada mobil..udah mepet" kurang lebih begitu. Aku langsung berhenti. Ga lama kemudian si bapak tadi lalu bilang "belakangnya udah mepet..kira2 tinggal 20 cm lagi", kata bapak itu. Gubrak!! fjhsnwouspidnwpif!! Susu kok dibilang teh.. eh salah, maksudku 20 cm kok dibilang mepet!

Padahal, bagi seorang precision driver yang sangat skillful seperti saya (halah..!!), jarak 20 cm tentunya masih amat sangat jauh untuk bisa dibilang mepet, dan buat aku jarak segitu lebih pantas untuk disebut "masih 20 cm lagi" bukannya "tinggal 20 cm lagi", dan masih sangat cukup untuk bermanuver. Nah trus apa hubungannya ama judul blog ini?? Gini, dalam kasus ini, si bapak tadi menganggap jarak 20 cm sudah mepet, sedangkan buat aku jarak 20 cm masih cukup jauh, artinya ada perbedaan standar dalam mengkategorikan suatu nilai jarak tertentu untuk disebut jauh atau dekat. Itupun baru untuk penilaian jarak dalam kondisi parkir atau kondisi  mobil bergerak dengan kecepatan sangat pelan, padahal idealnya standar jarak aman kan juga menganut sistem adaptive safe distance (halah..iki istilah opo meneh??) untuk menyesuaikan jarak aman saat mobil melaju dengan kecepatan yang berbeda ataupun pada situasi yang berbeda.

Maka dari itu, saya merasa perlu diadakan suatu mekanisme tertentu untuk mengkalibrasi pikiran dan perasaan setiap orang, agar kejadian seperti itu tidak terulang lagi. Bisa ga ya..? (emangnya kayak gini penting ga sih??)

Printer anda bermasalah?? Baca ini dulu…

February 1st, 2007 by aryowidiatmoko

Bagi anda yg punya masalah dengan printer, sebaiknya anda jangan terburu2 menyimpulkan bahwa printer anda tersebut rusak dan perlu diservis, entah servis ke toko komputer ataupun ke agen/servis center resmi. Walopun pada akhirnya hampir pasti printer anda akan beres, namun bukankah jauh lebih enak jika ternyata (mungkin) anda sendiri bisa mengatasi permasalahannya?

Maka dari itu, ada baiknya anda baca2 dulu beberapa tulisan saya (sebaiknya baca urut dari yg pertama) tentang pengalaman saya berurusan dengan printer2 yg bermasalah (untuk kasus saya printernya merk Epson semua). Selain itu anda juga bisa membaca dari halaman web milik SSC dan juga dari salah satu web tentang solusi printer. Semoga dengan membaca tulisan2 tersebut bisa memberikan pemahaman bagi anda bahwa ternyata printer anda (mungkin) memang tidak rusak.

Jika anda sudah bisa memahami permasalahannya, semoga selanjutnya anda juga bisa mengatasi sendiri masalah2 yg ada pada printer anda. Dengan demikian, akan menghemat waktu, tenaga, uang, dan perasaan anda juga.

Bagi anda yg mengalami masalah serupa tetapi belum berhasil mengatasinya, atau mengalami kesulitan, atau ingin informasi lebih lanjut, bisa menghubungi saya melalui Friendster atau dengan meninggalkan komentar pada tulisan saya ini.

Mari…, bersama-sama kita tingkatkan kemandirian kita dalam mengatasi permasalahan yg memang sudah dijadwalkan untuk terjadi pada printer2 kita dan mengurangi ketergantungan kita terhadap agen resmi/servis center.

NB: Nge-print memang harus pake printer, tapi bukan berarti harus tunduk pada agen resmi dan selalu pake tinta asli kan…, yg penting tetep bisa ngeprint dengan kualitas yg tidak jauh beda tapi jauh lebih praktis dan jauh lebih hemat. Selamat nge-print..!!

Perjalanan waktu ke masa lalu

January 23rd, 2007 by aryowidiatmoko

Dua hari ini, senin dan selasa, gue seperti mengalami perjalanan waktu ke masa lalu, kurang lebih sekitar 10 tahun yg lalu, dan sebagai akibatnya, dua kali pula gue harus ngrasain dipanggang di dalam mobil. Lohh..?? Kok bisa…?? Nah, gini critanya…

Pada dua hari itu, gue harus nganter seseorang, ke suatu tempat, untuk suatu keperluan, tapi gue sendiri ga ikut, jadi cuma nge-drop aja, trus abis itu bisa gue tinggal ngapa2in sesuka gue, trus kalo udah slesai, gue jemput. Ini adalah skenario ideal dan sangat wajar untuk masa sekarang ini, tahun 2007. Akan tetapi, tadi kan gue udah bilang bahwa yg terjadi adalah perjalanan waktu ke masa kira2 10 tahun yg lalu, artinya, skenario diatas SANGAT SULIT DITERAPKAN.

Kenapa demikian?
Apakah yg membuat skenario ideal tersebut sulit diterapkan?
Kira2 hal apa yg sangat membedakan antara tahun 2007 dan 1997?

Jawabnya, TELEPON GENGGAM…!!
Intinya, pada dua hari tersebut, gue dihadapkan pada situasi dimana telepon genggam terkesan menjadi barang yg masih sangat asing dan eksklusif, makanya gue merasa seolah-olah kembali ke masa 10 tahun yg lalu. Dan sebagai akibatnya,  karena sulit berkomunikasi, skenario ideal itu sulit diterapkan, artinya, gue harus stand-by nunggu di dalam mobil dalam cuaca yg sangat panas, keringat sampe menetes membasahi karpet mobil. AC dan mesin mobil jelas gue matikan donk, biar hemat bensin.

Semua kejadian itu sebenarnya terjadi pada tahun 2007 ini, istilah "KEMBALI KE MASA LALU" hanya untuk mendramatisir situasi. Karena gue pikir, udah tahun 2007 dan serba canggih gini kok ya masih harus terjadi hal seperti itu hanya karena kesulitan komunikasi??

Padahal, penyebab sesungguhnya bukanlah karena tidak punya HP, tapi karena tidak bisa pake HP, dan tidak mau diajari cara pake HP. Lebih suka cara2 yg serba manual. Kalo udah gini susah kan?? Ga ada pilihan lain selain "mengikuti" perjalanannya mengarungi waktu ke masa lalu…

Susahnya punya mobil tua

January 20th, 2007 by aryowidiatmoko

Hari gini, sudah ada internet, mau cari info tentang apa aja bisa dapet dengan cepat dan mudah, lengkap pula. Tapi ternyata ga smua info bisa didapet di internet dengan semudah itu, apalagi kalo info yg dicari ada kaitannya dengan hal2 yg udah ga up to date lagi alias ketinggalan jaman.

Contohnya, pas gue mau cari info tentang karburator mobil gue Honda Civic tahun 1988. Gue cari info itu, karena pengen tau gimana cara kerja karburator, setting-an yg paling efisien sehingga bisa hemat dan bertenaga, fungsi katup2 vakumnya, fast idle, advanced ignition vacuum, primary-secondary, dll. Gue pengennya bisa dapet info smua itu plus gambar/skema detailnya, biar bisa gue praktekin langsung di mobil gue.

Tujuannya udah jelas, agar bisa tercapai performa dan efisiensi yang maksimal, mosok tarikan ama sesama Grand Civic aja kalah, payah kan? Mumpung mobil gue abis turun mesin, jadi secara fisik daleman nya mesin bisa dibilang dalam kondisi prima deh, cuman masalah setting-an karburator dan ignition timing aja yg kayaknya masih blom maksimal, soalnya cuma disetting pake perasaan oleh sang mekanik. Bukan gue yg nge-set, soalnya gue paling ga bisa kalo harus melakukan hal2 teknis dengan cara2 yg non teknis… :)

Tapi ternyata setelah sekian lama cari2 artikel itu di internet, gue ga pernah nemu yg bener2 cocok ama mobil gue, dan setelah gue baca2 beberapa artikel yg ada hubungannya dengan Honda Civic 1988, ternyata mobil2 Civic mulai tahun 1988 itu udah ga pake karburator, alias udah pake sistem injeksi dan dilengkapi dengan Electronic Control Module. Jelas ga match donk ama mobil gue yg mekanisme nya masih fully mechanical, padahal jenis dan tahunnya sama. Kok bisa ya?? Hmmm… mungkin pihak Honda memang sengaja bikin mobil dalam berbagai versi, dan versi termurah/terrendahnya yg dikirim ke Indonesia…

Ada juga kesulitan lain, misalnya kalo harus cari spare parts. Beberapa parts memang interchangeable dengan parts milik adik-adik nya yg lebih muda, atau parts yg universal dan ga harus original, jadi gampang dapetnya. Tapi pernah juga gue butuh cari parts yg spesifik untuk Civic 1988, dan harus original. Mau ga mau, harus pergi ke bengkel resmi, Honda Anugerah. Memang sih, akhirnya dapet juga, tapi proses mendapatkannya juga ga mudah.

Pas gue dateng dan nunjukin barang yg gue cari, si penjaga counter spare parts harus bersusah payah dulu mencari katalog spare parts untuk Civic 1988. Buku katalog nya itu udah lusuh, berdebu, dan sobek2, memelas banget deh… , tapi lumayan lah karena katalog spare parts nya itu udah tercetak diatas kertas dan berbentuk buku, bukan diukir diatas lembaran daun lontar :) Udah gitu, nyari nya luuuaaamaaaaa buuuaaangeeeetzz!! Pas udah ketemu, bapak yg jaga counter itu bilang, bahwa barang yg gue cari itu adalah stok lama yg udah bertahun2 ga laku dan udah dimasukin ke kumpulan stok barang ga laku dan akan di lelang…

Hmm… tapi bagaimanapun juga, ini masih tetep mobil gue satu2nya… harus dirawat dan dijaga agar ga makin ketinggalan jaman dan bisa terus ngikutin perkembangan teknologi, sebisanya dan semampunya aja…pokoknya push to the limit lah…Setelah dimodif biar audio sistem nya bisa buat denger musik dari IPOD atau MP3 player, sapa tau besok2 bisa pasang TV kabel, DVD player, dan Air Suspension biar kalo pas lewat polisi tidur bisa Enjoy Aja…!!

Strategi bisnis ala GI*

January 10th, 2007 by aryowidiatmoko

*GI adalah inisial dari salah satu merk produk tinta printer dan infus kit.

Kemaren gue ke Jogja sama ortu, ada beberapa tujuan di Jogja, salah satunya ke Ramai Mall. Pas di Ramai Mall, gue jalan2 ke Jogja Komputer Market (JKM) yg ada di situ. Sesampainya disitu gue liat ada satu counter baru yg relatif lebih rame dibanding counter2 lainya, dan kayaknya masih sibuk menata counternya. Gue pikir, itu counter baru pindahan atau baru buka jadi ada promosi atau diskon besar2an. Iseng2 gue datengi itu counter, gue liat2, ternyata itu counter jualan tinta refill dan infus kit untuk berbagai macam printer. Merk tinta nya seperti disebutkan di judul postingan ini, inisialnya GI.

Pas gue lagi liat2, tiba2 salah satu orang disitu menyapa gue. Kalo dilihat dari "varian" nya, jelas yg menyapa gue itu bukan
karyawan biasa, mungkin orang kepercayaan si bos atau saudaranya bos,
atau anaknya bos. Tau kan maksud gue?
Nah, karena udah terlanjur diajak ngobrol, gue langsung bikin konsep untuk mengarahkan pembicaraan.

Gue crita kalo gue udah punya 3 printer Epson C45 dan 1 Epson C67, semuanya udah diinfus (bagian ini memang nyata, walopun ga smuanya milik pribadi gue) tapi gue trus berpura2 kesulitan untuk mereset waste ink counter nya karena ga punya software resetter nya (padahal sebenernya punya). Selain itu gue juga tanya2 ttg chip yg digunakan pada infus kit yg dia jual.

Dari pembicaraan yg sangat teknis itu, rupanya dia udah mulai paham maksud pembicaraan gue, dia tau kalo rupanya gue berusaha membujuk dia untuk ngasih  software buat ngreset waste ink counter pada printer2 Epson, dan dia menolak dengan alasan profesionalitas dan menghargai Epson. Trus gue tanya kalo ngreset-kan kesitu bayar berapa, dia bilang 25 ribu untuk sekali reset. Jadi kalo gitu, bisa ditebak donk dia ga mau kasih software resetter karena alasan apa, profesionalitas atau potensi income??

Selain itu, dia rupanya juga menganggap gue sebagai orang yg "ga bisa dijerumuskan" karena menurut dia gue adalah termasuk kategori "konsumen tau". Critanya gini. Dalam obrolan yg terus berlanjut itu, gue iseng2 tanya harga printer Epson R230 Photo. Nah, pas gue tanya itu, dia balik tanya ke orang di sebelahnya (entah itu bosnya/bapaknya/omnya/sodaranya/kakaknya dll, tapi yg jelas sih gue denger samar2 dia manggil orang itu dengan sapaan khas "varian" mereka). Dia tanya ke orang itu "…Epson R230 brapa? tapi ini konsumen tau lho…"  abis itu dia nyebutin harganya ke gue. Sebenernya brapapun harganya gue ga masalah karena gue memang ga niat beli. Tapi yg bikin gue penasaran adalah penggunaan istilah "konsumen tau" itu tadi. Sekalian aja gue tanya ke dia "…itu tadi kok ada kata2 ‘konsumen tau’ itu maksudnya apa?"  Dengan polos, penuh percaya diri dan jujur serta tanpa rasa sungkan, dia menjawab "…ya gini mas, mas kan termasuk orang yg tau barang dan tau harga, jadi ya kami kasih harga spesial gitu, kalo ke orang yg ga tau ya kami kasihnya harga tinggi…". Nah lo, kalo trik macam ini termasuk strategi bisnis yg patut ditiru ga nih?

Sampe disini aja critanya. Intinya, buat para pembaca, kalo kebetulan anda mau beli tinta/printer/infus kit di counter GI, sebaiknya anda menambah wawasan anda dulu tentang dunia per-printer-an dan pastikan bahwa anda bisa memberi kesan pada orang2 di counter itu bahwa anda layak untuk dikategorikan sebagai "konsumen tau". Atau, sebaiknya anda siap2 dulu, sapa tau anda tidak termasuk kategori "konsumen tau", karena jika benar begitu, berarti anda harus mengeluarkan dana ekstra untuk membeli barang yang sama.

Gue nulis ini bukan buat menentang atau membela pihak2 tertentu, gue cuma pengen bilang bahwa ternyata, pengetahuan itu memang ada harganya…

Kok bisa pas ya…?

December 17th, 2006 by aryowidiatmoko

Kira2 bulan Juni 2005, mobil gue rusak parah dan hasil diagnosa menyatakan bahwa mobil harus opname di bengkel selama 3 hari. Nah, berdasarkan hasil diagnosa tersebut, waktu itu gue memutuskan untuk nyervis mobil gue ke bengkel di Honda Anugerah jogja, bengkel resmi Honda. Gue pilih masukin mobil gue hari Sabtu, dengan pertimbangan supaya mobil bisa gue tinggal pulang mudik dan senin/selasa nya bisa sudah jadi, karena setauku Honda Anugerah tetap buka di hari Minggu. Nyatanya, selama ini Honda Anugerah memang tetap buka di hari Minggu. Pas mobil gue udah mulai dibongkar mesinnya, gue ngobrol2 ama mekaniknya, dan gue dapet info bahwa ternyata hari Minggu besoknya itu, bengkel libur, karena ada pemilu. Waktu itu sih kalo ga salah pilkada DIY, jatuh hari Minggu, sekitar minggu terakhir bulan Juni 2005. Artinya: PERHITUNGAN GUE MELESET…

Nah, Sabtu kemaren mobil gue rusak lagi, keliatannya pompa air radiatornya bocor karena ada tetesan coolant dari tempat yg diduga adalah merupakan letak waterpump. Gue langsung ambil keputusan untuk nyervis mobil ke Honda Tunas Jaya di Magelang. Gue berangkat pagi dengan harapan mobil bisa langsung dikerjakan dan langsung selesai, karena dalam bayangan gue, ngganti waterpump itu semudah ngganti filter oli, tinggal lepas, trus pasang yg baru, beres deh! Tapi ternyata ngganti waterpump itu rumit banget, banyak banget yg harus dibongkar sebelum bisa mencapai si waterpump itu. Setelah waterpump bisa dilepas, ketahuan bahwa ternyata ada baut yg patah dan patahannya tertinggal di blok mesin, nah lho..!! itu artinya ada tambahan pekerjaan dan berarti ada tambahan waktu yg dibutuhkan juga! Yg paling seru, ternyata Honda Tunas Jaya kalo hari Sabtu cuma buka setengah tiang hari sampe jam 12 siang. Wow, itu berarti untuk menyelesaikan mobil gue pada hari itu juga adalah sebuah hil yg mustahal. Selain itu, Honda Tunas Jaya pada hari Minggu tidak bukak! Artinya: PERHITUNGAN GUE MELESET LAGI…

Jadi, maksud dari judul tulisan ini adalah, kenapa dulu mobil gue rusak pas ada pilkada DIY dan knapa pula skrg rusaknya pas hari Sabtu… He he he.. ga nyambung ya..??!!

Take the risk for good reason

December 11th, 2006 by aryowidiatmoko

Kalimat yg gue jadiin judul itu njiplak dari temen gue. Sepertinya itu adalah prinsip hidupnya. Walopun menurut gue dari segi bahasa kalimat itu terkesan agak dipaksakan jadi bahasa Inggris. Tapi gue bisa tau maksudnya dalam bahasa kita kurang lebih adalah "Kita harus berani mengambil resiko untuk tujuan2 atau maksud2 yg baik", nah itu begitulah hasil translation nya. Ingat, menterjemahkan kalimat adalah menyampaikan kembali ide2 di dalam kalimat itu dengan bahasa lain, bukan semata2 menterjemahkan kata demi kata..!
Gue bikin tulisan ini karena kalo jadi akan ada rencana melakukan sesuatu yg tujuannya (menurut gue) baik2 aja, tapi (mungkin, bahkan hampir pasti) ada resikonya. Kan cocok nih dengan kalimat dari temen gue itu.
Jadi kesimpulannya, buat gue,
APAPUN RESIKONYA, MINUMNYA TEH BOTOL SOSRO!! (loh..??!!) Eh, tapi kalo dipikir2, jika resiko itu harus diambil dan dijalani di Plaza Ambarrukmo, sayang donk kalo cuma minum teh botol sosro, teh botol kan di tempat yg ndeso sekelas Kantin Kolam Renang Tirto Aji di Muntilan aja ada.., kalo di Plaza mendingan minum Frozen Capucino (C-nya dobel ngga sih??) di Solaria aja…

NB: Buat temen gue yg kalimatnya dijadiin judul, royalti nya menyusul ya :)

 

TIdak Pada Tempatnya (lanjutan)

December 8th, 2006 by aryowidiatmoko

Tulisan gue yg berjudul Tidak Pada Tempatnya, ternyata mendapat komentar dari calon-calon dokter yg merasa agak tersinggung dengan isi cerita pada tulisan itu. Padahal, gue ambil contoh dokter itu karena profesi dokter sangatlah tidak asing dengan masyarakat. Maka saya pikir, akan sangat mudah dipahami jika saya membuat tulisan yg intinya adalah "ada dokter yg ga bisa nolong orang tenggelam karena ternyata dia sendiri ga bisa renang". Coba bandingkan jika ceritanya adalah "ada seorang ahli jaringan komputer bersertifikat CCIE dari Cisco System ga bisa bantu betulin mobil Mazda RX 8 ber mesin rotary yg sedang mogok karena ternyata dia sendiri blom pernah tau konstruksi mesin rotary", lebih mumet toh?
Lagipula, yg mau gue tekankan di cerita itu bukan tentang ketidakmampuan seorang dokter, tapi tentang bagaimana jika seseorang dihadapkan pada sesuatu yg memang bukan keahlian-nya (walaupun mungkin masih ada hubungannya) dan bagaimana kira2 pandangan orang awam terhadap situasi seperti itu. Pada tulisan itu gue kan juga ga menjelekan si dokter yg gue jadikan contoh, disitu gue tulis bahwa si dokter itu reputasi nya di bidang medis sudah tidak diragukan lagi, begitu juga dengan penilaian masyarakat terhadapnya. Hanya saja pada suatu ketika dia dihadapkan pada situasi yg memang sulit bagi dia. Pada situasi itu, jelas2 dia ga bisa nolong si korban karena dia sendiri ga bisa renang, sedangkan pada saat itu mungkin saja ada orang lain yg ga berpendidikan sama sekali, bahkan mungkin ga bisa baca tulis, tapi dia bisa renang dan bisa nolong para korban itu, ya ga?

Trus pertanyaan saya, kira2 pandangan orang awam terhadap hal itu gimana?

Nah, gitu loh intinya…